Sunday, 14 September 2014

Good Perspective



I ever read somewhere on a blog, I forget which one, that changed my perspective. The line’s saying, “You always complain the red light but you never celebrate the the green one”. 

Hell, yeah, that was true. Whenever I had a bad day, I used to feel really some kind of a crap. But after had reading that line, I analyzed that although there were times when I had a bad day, most of my days were actually good enough.

More than an innate virtue, I think this kind of thing is something that we gained. It does need practice. At first it might be damn hard, but as time goes by and our brain get used to it, it is nothing but our habitual virtue. 

We need positivity-
To see different perspective of something bad. To remember that one bad day does not destruct one good month, One bad week doesn’t destruct one good year, and one year of suffering doesn’t destroy our one good life we have. Bad days of our life were nothing than an added color to our life. 

This is a happy life afterall if you look it close enough.

Toru Watanabe



Last month, I read Norwegian Wood by Haruki Murakami. This is the second book of him that I’ve read and turned out to be one of my favorite books. 

The story revolves around memories of Toru Watanabe. Memories about his past life, love, losing, friendship, and daily life. The story started when a 40-years-old Toru Watanabe hear Beatles’ Norwegian Wood that brought him back to the memories 20 years ago. It started from his rare friendship with Kizuki who made him met Naoko, the love of his life. The story moved to his daily life in university where he studied drama and his life in his dorm. He also made a love-friendship relationship with his classmate where their acts made me laugh sometimes. The fragments of the book revolves in so many times of his life, but there were mostly Naoko on each of the fragment.

The novel tells lots of beautiful touching descriptive lines. Lines about situation of a place or a personality of a person. What made me breathtaking is also about the way he told us the feelings that Toru had. It’s like we were really empathetically connected to his feelings. Awesome. 

Beside the storyline and his fabulous descriptive writings, what really made me fall in love with the book is its character. How Toru Watanabe, the main character of the book, has several similar personality and way of thinking with me.

Here are some lines of the book that depicts my similarity with him.

“I was more of a listener than a talker”
(Hell, yeah am)

“I didn’t have much to say to anything but kept to myself and my books. With my eyes closed, I would touch a familiar book and draw its fragrance deep inside me. 
This was enough to make me happy”
 (Fragrance of books!)

“Do you always travel alone like that?
Uh-huh
You enjoy solitude?”
(I like solitude travelling)

“Nothing special. I have things I like to do.
For instance?
Hiking trips. Swimming. Reading.
You like to do things alone, then?
I guess so. I could never get excited about games you play with other people. 
I can’t get into them. I lose interest”
(My kind of exercise)

“I was an only child. I was satisfied being alone”
(I am an only child)

“It may even be better with the time to read on the train”
(I do love to read on train so much)

“Oh well, what the hell, you obviously want to be alone, so I’ll leave you alone. 
Go ahead and think away your heart’s content”
(Happens to my love relationship)


See? It giggles me when I read those lines of the book. It is the first time in my life that I read a book that really close to my own thoughts and feelings.

Tuesday, 9 September 2014

Ben


“Sudah banyak contohnya bahwa terkadang hal kecil bisa berefek besar. Jangan pernah menyepelekan kebaikan-kebaikan kecil yang lo berikan pada orang lain”

Suatu malam setelah saya dan sahabat saya, Bagaskara, menghadiri bedah buku, ia berkata demikian. Ia bercerita betapa ia banyak dibantu hanya karena pernah menolong mengobati dan mengantarkan pulang seorang anak SMP yang terjatuh ke selokan. Setelah kejadian itu, si bapak anak itu secara rutin berhubungan baik dengan Bagaskara bahkan sering mengiriminya makanan.

Hanya satu tindakan kecil yang mendatangkan berkah yang berkepanjangan. Ia bilang, ia bisa saja terus mengendarai mobilnya tanpa menghiraukan anak itu. Namun mengingat ia pernah juga jatuh ke selokan saat SD dulu, ia jadi memutar balik menolong anak tadi. Lalu ia juga bercerita mengenai hal-hal serupa lainnya.

“lo ada ga cerita serupa?”, ia balik bertanya kepada saya yang dari tadi hanya iya-iya mendengarkan.
Pernah. Dulu ada satu teman baik saya namanya Nyimas Wulandari, teman di Palembang dulu. Jadi saat itu ia bilang ia sakit dan menanyakan apakah saya ke kampus dalam kota. Saya bilang saya sedang perjalanan ke kampus luar kota karena ada kelas disana. Dia bilang sebenarnya tadinya saya mau minta tolong antarkan surat sakit saya karena bila tidak ia tak bisa ikut ujian. Ah, entahlah karena cemas ia tak bisa ikut ujian, saya menitipkan tugas kuliah saya pada teman di sebelah dan turun dari bus tersebut. Saya datang ke kost Nyimas tadi dan memberikan surat sakitnya kepada dosen di kampus dalam kota saya. Sudah, demikian saja.

Esok-esoknya, kami menjadi dekat, sangat dekat malah. Ia banyak menemani saya dalam beberapa waktu terburuk saya selama tinggal di Palembang. Pernah menjadi satu-satunya teman yang saya punya saat kehidupan sosial saya di Palembang dalam masalah. Dia bilang, dia akan selalu menjadi sahabat saya, sebagaimana dulu saya pernah membantunya dalam masalah surat sakit. Tak semua orang waktu itu mau turun dari bus dan membantu saya, lho. Dia berkata demikian. Padahal menurut saya, itu hanya hal kecil.

Sahabat saya, Nyimas Wulandari ini adalah salah satu orang yang bisa nyaman dengan kesunyian saya.

I knew you. Sometimes I see when you were with other people and you just trying to make conversation just to make others feel good. But you don’t have to do it with me, I accept your silence moments. We’ll be good at it”
Saat mengantri di mall, ia berkata demikian saat saya sedang diam dan tiba-tiba saya nyaman.

Sahabat saya yang satu ini orangnya keras. Ia mahasiswi keperawatan yang juga pencinta alam yang telah mendaki gunung di Sumatera, Jawa, Bali, sampai Nusa Tenggara.

Banyak waktu yang telah kami habiskan bersama. Kami pernah mengabiskan waktu di suatu mall dari Dzuhur hingga Isya! Melakukan semua sholat empat waktu tersebut di mall. Pernah juga suatu malam ia menelepon saya pukul 01.00 dini hari sambil terisak menceritakan Ibunya yang telah tiada.

Ohya, saat saya dalam salah satu masa terburuk saya di kota Palembang, kami pernah berkaraoke berdua dan ia menyanyikan satu lagu untuk saya (Ia pintar menyanyi juga, pernah menjuarai lomba menyanyi se-provinsi).

Ben, the two of us need look no more
We both found what we were looking for
With a friend to call my own
I’ll never be alone
And you my friend will see
You’ve got a friend in me

Ben, most people would turn you away
I don’t listen to a word they say
They don’t see you as I do
I wish they would try to
I’m sure they’d think again
If they had a friend like Ben”

Sejak saat itu, ia sering memanngil saya “Ben” atau “My Ben”.

Jujur saya sudah lama tidak bertukar kabar dengannya. Semoga ia baik-baik saja. Mungkin malam ini saya akan menghubunginya duluan. Thanks Judada :)

Tuesday, 2 September 2014

F & F


Kemarin Minggu, setelah tujuh tahun tidak bertemu muka karena masing-masing kami tinggal di kota yang berbeda, akhirnya kami bertemu. Saya bertemu dengan dua sahabat yang masing-masing berawalan huruf F. Kami bertukar banyak cerita. Dimulai dari satu kalimat “How’s life?” yang merembet ke akar-akar cerita lainnya.

Saya dekat dengan dua orang ini pada satu bulan persiapan SPMB saja, tanpa mengira ikatan yang terjadi terus berlanjut selama ini. Kami belajar dari pukul 8 pagi hingga 8 malam. Kadang di kelas, lebih sering lagi di diskusi kelompok. Hari demi hari, kami selalu menduduki meja yang serupa. Dan dari sana itu bermula.

F yang satu itu perempuan. Tubuhnya mungil. Dulu ia bagian tim majalan sekolah. Kreatif, baik hati, dan menyenangkan. F yang satu lagi laki-laki. Dari luar tampak hitam seperti kegemarannya akan musik rock. Tapi kepribadiannya religius dan pikirannya idealis.

Saya, yang satu-satunya D ini, dulu malas sekali sholat. Namun, dua F ini teramat baik menjaga sholatnya. Membuat saya pada akhirnya ikut sholat juga. F yang laki-laki berhasil menjelaskan sudut pandang bahwa sholat lima waktu sehari sesungguhnya tidak berat sama sekali.

Kemarin kami bertemu dari siang hingga malam. Kami bertemu di Grand Indonesia (yang F laki-laki benci). Seperti biasa, saya bukan si pandai pembicaraan, kebanyakan saya bertanya lebih dalam atau mendengarkan lebih seksama. F yang laki-laki awalnya sedikit ngambek kecewa akan saya yang dinilainya sombong karena tidak menerima path request dan tidak membalas pesan facebooknya. Ah, memang perilaku media sosial saya mengecewakan beberapa orang. Namun pada akhirnya untung ia tak jadi marah.

F yang perempuan bercerita dia baru baikan dari sakit. Refluks Laringofaringeal, penyakit THT yang memang lama bisa sembuhnya. Saat saya bertemu dengannya, memang badannya masih agak lemah dan raut mukanya juga tak seceria dahulu. Tapi dia bersikeras untuk bertemu hari itu karena dia akan pergi sejenak.

F perempuan ini memiliki satu misi yang akan dilaksanakannya dua hari setelah kami bertemu. Ia akan pergi ke Pulau Xanana, Maluku Utara, untuk mencari ayahnya yang tak pernah ia temui selama 23 tahun. “Kenapa?”, saya dan F laki-laki bertanya. Ia bilang “Rindu”, sudah hanya itu saja yang ia bilang.

F yang laki-laki bercerita tentang pengalaman kerjanya di Kalimantan. Dimana pekerjaannya yang menilai kinerja karyawan menjadikannya satu kali hampir ditusuk oleh karyawan yang kinerjanya perlu diperbaiki. Selanjutnya ia bercerita masa lalu. Mengenai cinta terakhirnya yang harus berhenti karena si perempuan yang berwajah teduh itu selingkuh dengan yang lain.

“Lo inget ga sih, gue pernah beberapa kali nanya alamatlo secara berkala? Itu karena gue rencana mau ngirim kado buatlo. Gue siapkan jumlah baju dari tiap gue pergi naik gunung. Tapi kadonya kena banjir”, si F laki-laki berkata demikian.

Sedangkan saya, yang satu-satunya D ini, bercerita mengenai datarnya keseharian yang sedang saya jalani. Namun, pada akhirnya si F laki-laki menyinggung tentang kisah lama saya. Jadilah saya bercerita tentang i-saw-an-angel yang dulu pernah saya alami.

Pertemuan pertama kami setelah tujuh tahun diisi oleh sedikit cerita mengenai rencana masa depan, beberapa cerita masa kini, dan banyak cerita masa lalu. Kami kembali duduk di meja yang sama, tapi bukan untuk belajar seperti tujuh tahun lalu, tapi untuk mengingat bahwa kami bertiga dulu punya banyak cerita saat muda. Cerita yang selama ini tidur bersembunyi di sela-sela ingatan, tapi tiba-tiba menyeruak menari bebas saat kami bertemu.

“Gue benci banget ama lo, sombong. People come and go. But there are some people that I wanna keep forever, termasuk lo”

Well, yes, indeed, people come and go. But I left some of my pieces of home in the heart of my best friends. That’s why time or distance means nothing after all these years. Welcoming you, welcoming me, welcoming us, together again.