Tuesday, 9 May 2017

So long, Partner.

Well, another passed-away friend this week.
Although currently we were not so closed like we used to be,
still, it hurts. 

It hurts because although we were never seen each others again for years,
people are eternal. They always live a protective shelter called: memories.

I will still remember how my friend Dilla put salt on my cup of tea and how she liked my exercise book so much. 
I will always remember Fatur, my friend who used to always wait for me to get home together on our university bus one-hour daily trip. 
and now there was Febi, a crazy extrovert human being who spread all energies to his all surrounding with his jokes and his annoying laughter. 

Well, no matter how I never ever met them again before, I guess they will always live inside my mind. All I need is some occasions like songs, movies, or random thoughts to instantly bring those memories about them again. 

People are eternal. 
Happy passed away, my friends. 
I will miss you. 

Monday, 6 March 2017

Hey, Dam. Selamat pagi atau sore atau malam. Gue ga tau kapan lo bakal baca email ini.  How's life, Dam? Pretty damn good or pretty damn sucks? Well, I hope you're okay. Gue, Bumi, dan teman-teman lain selalu mendoakan kita bersaudara diberikan kebaikan dalam hari-hari kita.

Kita disini lagi lumayan sibuk. Mengejar titel hanya dalam satu tahun betul-betul serasa lari-lari. Sejak minggu lalu, gue sering mendapati Bagas ketiduran di meja. Wajah gue dan dia sudah selayaknya zombie. Ah, jangan-jangan lo mendoakan kami supaya bernasib sama serupa lo ya, Dam? Jadi zombie seperti lo yang jaga malam terus. We're the zombie brothers then. 

Fiona bagaimana? Baik-baik dia disana? Titip salam ya untuk dia. Semoga kalian senang-senang di Yogyakarta yang romantis itu. Btw, Dam, disini gue juga dekat dengan seorang cewek yang kuliah di Leeds. Kita ketemu saat ada acara budaya PPI. Gue main gendang dan dia menari daerah. Orangnya baik tapi sibuk banget kesana kemari. Idk, gue kabarin kalau terjadi apa-apa antara gue dan dia. Haha apa-apanya hal yang positif lho ya. 

Oh iya, minggu lalu, Ayah dan Bunda gue kesini. Dia bawa rendang banyak banget. Tadinya gue mau bagi-bagi ke teman-teman Indonesia disini. Tapi pas gue bungkus-bungkusin, Bagas ngambil bagian paling banyak buat dia sendiri. Jangan lupakan kawan sendiri, Bro. Gitu katanya. Emang ya itu bocah, in terms of foods, he is a selfish jerk. 

Kemarin di kampus, gue ketemu Bela, Dam, temen satu PK lo di LPDP. Dia titip salam, katanya. Dia juga bilang suruh lo untuk kesini buat main-main. Haha andai ya, Dam, bisa main-main kesini. Bisa ngaco-ngacoan lagi kita bertiga. Tapi yaudah fokus aja sana, Dam, sama cita-citalo disana. Nanti kita ketemu bawa hasil bareng-bareng. 

Lo masih baca buku ga, Dam? Saat ini gue lagi di halaman 73 buku yang judulnya The Sailor who Fell From Grace with The Sea. Yang menulis penulis Jepang, Yukio Mishima. Ini ada salah satu quote-nya yang menurut gue lumayan juga. 

"Possibly a man who hates the land should dwell on shore forever. Alienation and the long voyages at sea will compel him once again to dream of it, torment him with the absurdity of longing for something that he loathes." 
Well, nanti saat lo ga sibuk, coba cari bukunya, Dam. Menurut gue bagus. But still, textbook come first, Bro. haha #painful #patheticallyacademics. 

It's 1AM here, Dam. Freezing fukcin' cold. Harusnya sih gue mengerjakan tesis gue tapi kedinginan dan kangen Jakarta. Jadi gue break sebentar deh terus kirim email ke lo dan ke Ayah juga. Oh ya, kami punya rekomendasi musik baru. Namanya Novo Amor, kayanya lo bakal suka poetically musical, my friend. 

Dam, yaudah ya. Good luck untuk sekolah kita bertiga. Doakan kami juga. Gue bulan depan ujian akhir. Bagas kayanya malah lebih dekat lagi. Let's beat the boredom and the sleepiness! Let the zombie brothers win!

Okay, Dam. See you soon in Jakarta or Yogyakarta or anywhere lah. 
Good night/day/morning/anytime.  

Sunday, 5 March 2017

There’s a chain in me. It feels like this chain is lingering on my neck. Day by day, the chain grows stronger. It chokes me. 

Saturday, 25 February 2017

NTS: Nocturnal Thought Series

I used to be a kinder person.

There was some series of events and some sort of current condition that makes me not so kind as I used to be. I feel that I betrayed my own self. I praise my old personality of mine of which I do help people purely, where I love every single human being around me wholeheartedly, where the world was not close-minded-ly taking goodness into flirty. 

Sometimes I feel sad about how I miss the old version of myself.
The kinder person of me. 
That time, I feel blessed because I did so many goodness to people.
So far than nowadays.

Dam, please come back.








Sunday, February 26th 2017
A nocturnal though for a melancholic blog

Wednesday, 15 February 2017

Diantara Kemoterapi

Selamat Malam, Februari.

Entah kenapa sudah dua minggu terakhir ini, sore di Yogyakarta selalu diisi oleh hujan yang lumayan deras. Yap, hujannya selalu mulai di sore hari sekitar pukul empat dan berlangsung sampai sekitar pukul sepuluh. Kalau begini, jadinya kalau pulang ke kost harus hujan-hujanan, ya tapi kalau disuruh milih antara hujan pagi dan hujan sore, mungkin hujan sore aja karena kalau hujannya pagi, ke rumah sakitnya jadi repot hehe.

Ngomong-ngomong, gue lagi tugas di Bangsal Kanker Anak bulan ini. Tugas di bagian ini lumayan berat karena pasiennya cukup banyak, program pasiennya juga lumayan ribet, dan banyak kerjaan administratif yang harus ditulis-tulis. Saya dan teman kerja saya jadi harus berangkat pagi-pagi sekali.

Sesungguhnya, selama tugas di bagian ini, waktu untuk belajar dan membaca lebih berkurang karena sehari-hari sibuk dengan masalah administratif pasien. Menulis, menulis, dan menulis surat ini dan itu. Berangkat gelap dan pulang gelap bikin rasanya ingin cepat istirahat aja kalau sudah sampai kamar. Namun, walau begitu, disini belajar banyak tentang kehidupan sih.

Walaupun banyak penyakit kanker anak yang bisa diobati, lumayan banyak juga yang harus menderita bahkan meninggal karenanya. Kebayang ga sih, kalau seorang anak kecil usia 5 tahun harus menahan rasa nyeri akan kankernya? Atau coba bayangkan anak usia 17 tahun yang kakinya harus diopearasi? Padahal ia sendiri dulu adalah kapten futsal? Ada juga pasienku yang usianya baru tiga tahun tapi ga punya mata lagi karena kedua bola matanya terkena kanker.

Tidak semua dokter punya kemampuan berhadapan dengan kondisi psikologis pasien yang demikian. Salah bicara sedikit, orang tua bisa langsung menangis bahkan pingsan. Ya disini saya jadinya belajar juga bagaimana untuk memberitakan kabar buruk untuk keluarga pasien.

Hal lain yang buat gue belajar adalah senyum mereka. Gue punya banyak banget pasien yang punya senyum lebih indah daripada senyum artis secantik apapun. Dengan rambutnya yang botak cenderung jarang-jarang, mereka bisa senyum dan bercanda-canda diatas penyakitnya. Yang gue lihat dari mereka adalah mereka punya kekuatan untuk menerima nasib mereka sambil berjuang untuk perlahan-lahan terlepas dari kanker.

Sentimental, tapi gue beneran sayang banget sama mereka. Semoga Tuhan selalu memberi berkah yang berlimpah dibalik kanker yang dialami. Bulan ini, gue akan berjalan dengan mereka untuk setidaknya mencoba membantu dan membuat mereka lebih nyaman selama menjalani pengobatan. Sampai jumpa esok hari.





Sunday, 15 January 2017

2017

When I said I want to live peacefully. I mean it. I do really mean and try to achieve it especially in this 2017.

The world is full of good people. I want to be like them and dance among them. Happiness is in our air. I want to breath them. Inhale then exhale it with happier feeling than before. On some occasion, I would also accept the moments of sadness and sorrow wholeheartedly because these moments make us a complete human being. 

I am going to study passionately and went home gladly. I want to read good books until sleepiness took over my eyes. I want to listen to good songs until sleepiness took over my ears. I am going to sleep with ultimate calmness and see the exciting dream within it and wake up with phospene which is beautiful. 

I will go out more frequently with family and those good people of mine and laugh out loud again and again. I will see more strangers and turn them to friends. I want to store some memories on their mind as they store theirs in mine.

When my introversion needs time, I will give myself a space and time of its own. I will go to the brownish cafe to see the pouring rain by the window. I will go travel by train to nearby town. I will pack my bags and fly to places I have never been and see how people there do their everyday life.

But the world is also filled with people who like to do the opposite of happiness. Those who hate others by their personal reason. I have a chance to defend myself or to epxlain to them about my point of view. But as I previously said that I want to live peacefully so I will explain them my point of view only if it is needed.

If any people try to bring me down, I will thank them and take lesson from it.Then I will dive among it smilingly and jump upon it and let them busy with their negativity.

I will eat with good responsibility because health is one of our biggest investation. Do some personal exercise to turn the endorphins out and decrease the stress level. In some day I will run with pride but in other day I will meditate with humility. Meditatation brings us a pure sense of happiness and a clear state of mind.

I will write a letter to my family, lover, friends, favorite authors, and especially to myself. I will write a journal to keep the memories of my life not vanishing. I will thanking God for the good moments and thanking God also for the unfortunate moments. I will hug them all as a uncomplete pieces of my puzzles.

Dear, 20-17: Good morning, good afternoon, and good evening.

Monday, 26 December 2016

Tentang 3 tahun dalam suatu deskripsi pohon.

Lihatlah itu: pohon tentang kita.

Pohon yang tentang kita itu, akarnya sudah mulai memeluk erat tanah yang lumayan dalam. Entah setampan atau secantik apapun orang yang mencoba mencabut, mendobrak, dan meruntuhkannya, mungkin malah jatuh tersungkur karena akar kuat yang sama-sama kita bina.

Begitulah tentang kita. Selalu akan ada orang yang lebih tampan atau lebih cantik, selalu ada orang yang mungkin tampak lebih baik, tetapi kali ini, aku hanya ingin kamu seperti kamu ingin aku. Bukan yang lain.

Lihatlah itu: pohon tentang kita.

Dedaunan yang hijau dan menenangkan. Tiga tahun kita menumbuhkannya untuk menaungi diri kita berdua. Kita berlindung dari hujan dibawahnya. Kita bersembunyi dari terik dibawahnya. Dan diantara hujan dan terik kita akan menikmatinya bersama. Entah dengan bersama-sama bercanda atau berbarengan menyetel melodi melankoli,  dibawah pohon itu kita bersama-sama akan membunuh musuh kita yang utama, yaitu, waktu.

Lihatlah itu: pohon tentang kita.

Ia meranggas dan meninggalkan dedaunan yang mengering menjadi cokelat. Ia jadi pohon kaku yang membosankan. Saat itu terjadi, ingatlah bahwa ia hanya sedang mengikuti musim hingga ia bisa kembali menjadi hijau yang menenangkan. Saat itu terjadi, aku akan menyelami duniaku sendiri seperti kamu yang sedang merenda duniamu. Kita semua butuh kesendirian untuk sejenak mendengar kata hati sendiri-sendiri. Namun, bersama-sama kita akan dipertemukan oleh sahabat kita yang utama, yaitu, waktu.

Lihatlah itu: pohon tentang kita.

Kita merasakan sakit hati. Kita menyakiti dan disakiti. Ada goresan yang mungkin mematahkan ranting-ranting dalam pohon kita. Namun, demikianlah guna sakit hati. Dari ranting terjatuh, yang kita semai dengan air mata dan kata maaf itu, timbul akar baru yang bisa menjadi cikal bakal pohon-pohon baru.

Lihatlah itu: pohon tentang kita.

Kita menyemainya dengan emosi yang kita miliki. Hingga akarnya meresap makin memeluk tanah dan pucuknya menari melambai ke bawah langit. Dan perlahan pohon itu menciptakan pohon-pohon lainnya. Hingga terciptalah hutan tentang kita.

Lihatlah disana: hutan tentang kita.

Karena kisah kita sudah tak muat bila diumpakan seperti pohon belaka. Maka mulai kini kuceritakan cinta kita ibarat hutan. Karena kisah kita sudah cukup luas dengan beraneka ini itu dan apa-apa lainnya. Karena sampai esok, pohon-pohon disana masih akan tumbuh dan melindungi kita berdua. Kita menghidupi hutan itu dan dihidupi olehnya.

Dan kita akan tak lelah untuk selalu menjaga hal-hal tentang cinta tersebut.


Tiga tahun. Awal yang singkat untuk cerita yang lebih lama. Selamat ulang tahun dan selamat tiga tahun. Aku berdoa yang baik-baik untuk aku, kamu, kita, dan tentang hutan kita tadi. 

So long, Partner.

Well, another passed-away friend this week. Although currently we were not so closed like we used to be, still, it hurts.  It hurts ...