Friday, 21 November 2014



Karena sebaik-baiknya warisan adalah
ilmu dan agama.

Thursday, 20 November 2014

Ada Apa Dengan Citra


Pengagum Rahasia






"Bunuhlah dulu harimau di dalam dirimu"
Harimau Harimau, Mochtar Lubis


*Gambar diambil dari sini

Monday, 17 November 2014

Ar-Ra'd (Guruh)

Interpretasi Personal Al-Qur'an
Ar-Ra'd (Guruh)
Surat ke-13
 "Those who have believed and whose hearts are assured by the remembrance of Allah . Unquestionably, by the remembrance of Allah hearts are assured."


Surat Ar-Rad diawali dengan ayat-ayat seputar kebenaran Al-Qur’an dan tanda-tanda kebenaran dan kekuasaan Allah SWT. Bait-bait surat pertama ini menyajikan hal-hal di muka bumi dengan kata-kata yang indah.
Allahlah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat…, dan menundukkan matahari dan bulan. [Ayat 2]

Ayat 3 surat ini juga menunjukkan kekuasaan Allah melalui bumi yang diciptakannya. Pada akhir ayat tersebut terdapat kata-kata ”bagi kaum yang memikirkan”, yang menjadi salah satu anjuran bahwa untuk merasakan adanya kekuasaan Allah tidaklah semata-mata dengan instan tetapi melalui pemikiran. Hal serupa, yakni kalimat “bagi kaum yang berpikir” juga didapatkan pada akhir ayat ke-4 (Untuk saya pribadi merupakan salah satu alasan mengapa ilmu filsafat itu penting)

Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan [Ayat 3]

Terdapat malaikat yang selalu mendampingi manusia, yakni ada yang menjaganya secara bergiliran yang disebut Malaikat Hafazhah (disebut dalam ayat ini), ada beberapa yang mencatat amalan-amalannya. Selain itu, kebangkitan dan keruntuhan suatu bangsa tergantung pada sikap dan tindakan mereka sendiri, seperti yang terdapat dalam ayat 11:

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Selanjutnya, ayat-ayat ini kembali diisi mengenai keesaan Allah yang dijabarkan dalam tampakan-tampakan kebumian. Pada ayat ke-13 pula terdapat hal mengenai Guruh, yang menjadi nama dari surat ini.

Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dialah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya [Ayat13]

Keesaan Allah juga ditunjukkan dalam ayat 16 berikut ini:

… “apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?”Katakanlah: “Allah adalah pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”

Bagian selanjutnya adalah mengenai amal manusia yang pasti mendapat balasan dari Allah seperti yang tertera pada ayat 22-24 ini:

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhan-nya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik) [Ayat 22]

(yaitu) surge ‘And yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya, dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu [Ayat 23]

(sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima sabartum” (keselamatan atasmu berkat kesabaranmu). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. [Ayat 24]


Diingatkan pula pada ayat ke-26 agar kita tidak terlena akan dunia ini yang tidak ada apa-apanya dibandingkan akhirat.

Allah meluaskan rezeki dan menyempitkan bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (disbanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).

Pada ayat 27, terdapat kalimat Katakanlah: “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya”, yang dilanjutkan dengan dua ayat selanjutnya yang menunjukkan ketentraman hati pada orang yang beriman:

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka  menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allahlah hati menjadi tenteram. [Ayat 28]
Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik [Ayat 29]

Dan pada surat ini dijelaskan pula mengenai Al-Qur’an dan kerasulan. Salah satu ayat mengenai Al-Qur’an terdapat pada ayat 37, yakni:

Dan demikianlah, Kami telah menurunkan AL-Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. [Ayat 37]

Adapun pada penjelasan, bahasa Arab dipilih karena alasan:

  • Sejak zaman dahulu kala hingga sekarang bahasa Arab merupakan bahasa yang hidup   
  • Bahasa Arab adalah bahasa yang lengkap dan luas untuk menjelaskan tentang ketuhanan dan keakhiratan 
  • Bentuk-bentuk kata dalam bahasa Arab mempunyai tasrid (konjugasi), yang amat luas sehingga dapat mencapai 3000 bentuk perubahan, yang tak terdapat dalam bahasa lain.

Monday, 13 October 2014

Bumi Manusia

Bumi Manusia oleh Pramoedya Ananta Toer:
 Sebuah pengingat untuk berbangga hati menjadi pribumi asli
“Jangan hanya ya-ya-ya. Tuan terpelajar, bukan yes-man”



Bumi Manusia adalah buku pertama dari Tetralogi Pulau Buru, sebuah karya besar karangan Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis Indonesia yang mendapatkan beragam penghargaan internasional yang karyanya telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa.
Buku Bumi Manusia bercerita tentang Minke, seorang anak pribumi asli keturunan Jawa yang sehari-hari belajar di sekolah kenamaan Belanda H.B.S. Bergaul dengan kehidupan Eropa membuat Minke menjadi pribadi yang terbuka matanya akan kemajuan pemikiran dan pendidikan Eropa pada masa itu. Ia pun merasa prihatin akan pola kehidupan dan pendidikan pribumi yang masih terbelakang di kala itu.
Walaupun ia seorang putra dari bupati kenamaan, ia tak pernah merasa bangga dan berlebih serta tak pernah mengaku bila ditanya hal demikian. Tidak menggunakan nama asli yang penuh gelar Jawa, ia malah memakai nama Minke, tanpa nama keluarga sehingga orang seringkali menanyakan mengapa ia tak memiliki nama keluarga. Dalam bersekolah, ia mengandalkan usaha dan pemikirannya sendiri tanpa embel-embel apapun.

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri”
"Lihat: aku hanya menghendaki nikmat dan jeripayahku sendiri. Yang lain tidak kuperlukan. Kehidupan senang bagiku bukan asal pemberian, tapi pergulatan sendiri
Bumbu romansa melekat erat sejak awal bagian buku ini. Adalah Annelies Mellema yang menjadi tambatan hati Minke. Annelies adalah anak dari Nyai Ontosoroh, seorang wanita pribumi yang diperistri oleh seorang pejabat Belanda. Melalui sosok Nyai Ontosoroh ini pula lah, Pramoedya menggambarkan kekuatan yang dapat dimiliki oleh seorang pribumi.
“Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”

“harus adil sudah sejak dalam pikiran, jangan ikut-ikutan jadi hakim tentang perkara yang tidak diketahui benar-tidaknya”
Berbeda dengan predikat seorang nyai yang biasanya hanya menerima nasib dan sekedar peduli akan harta inangnya saja, Nyai Ontosoroh adalah seorang pembelajar. Ia menyerap semua hal yang ia harus pelajari dari suaminya, mulai dari bahasa hingga masalah administrasi dan perpajakan, hingga pada akhornya Nyai sendiri yang mengurus perkebunan dan peternakan beserta seluruh pekerja yang ada di dalamnya.
“Minke: Mana mungkin? Mama bicara, membaca, mungkin juga menulis Belanda. Mana bisa tanpa sekolah?
 Nyai Ontosoroh: Apa salahnya? Hidup bisa memberikan segala pada barang siapa tahu dan pandai menerima”
“Juga jangan jadi kriminil dalam percintaan---yang menaklukan wanita dengan gemerincing ringgit, kilau harta dan pangkat. Lelaki belakangan ini juga kriminil, sedangkan perempuan yang tertaklukan hanya pelacur”


Salah satu bagian mencengangkan dari buku ini adalah keterusterangannya dalam mendeskripsikan keberatannya atas adat Jawa yang mengharuskan seseorang berjalan dengan lutut saat menemui orang yang lebih dituakan. Dengan berdumel, Minke mendeskripsikan hal tersebut sebagai tindakan kolot yang disayangkan.


“Ikut dengan pendapat umum yang salah juga salah”

“Semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin mengenal batas. Kalau orang tak tahu batas, Tuhan akan memaksanya tahu dengan caraNya sendiri”


Dalam buku ini, Pramoedya juga menjelaskan persepsi masa itu dimana kaum pribumi berstatus inferior dibandingkan kaum Eropa atau Indoeropa. Hal ini dapat dilihat dari beberapa kejadian, seperti saat Tuan Mellema yang marah saat Minke yang seorang pribumi datang ke rumahnya atau kejadian saat ia disindir oleh teman sekolahnya bahwa ia hanya seorang pribumi.

Merasa prihatin dengan persepsi demikian, ia mendobrak dan menyerah diperlakukan demikian. Minke adalah siswa yang pandai, bahkan terpandai di sekolahnya. Selain pandai di sekolah, ia juga piawai dalam menulis sehingga tulisan-tulisannya secara rutin dimuat dalam surat kabar tempo itu.
"Lukisan adalah sastra dalam warna-warni. Sastra adalah lukisan dalam bahasa"
“Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai”
Hal terbaik dari buku ini adalah keberanian Minke untuk menolak nasib yang diberikan kepadanya. Ia menolak persepsi bahwa Pribumi adalah kaum kelas dua. Keberanian Minke dalam memperjuangkan idealisme dan kebenaran juga patut dicontoh. Tulisan-tulisan Minke yang kritis juga menjadi salah satu contoh akan ungkapan bahwa pena atau tulisan dapat menjadi senjata yang lebih ampuh dibandingkan senjata lain.

Buku ini merupakan salah satu masterpiece roman Indonesia yang harus dibaca oleh seluruh lapisan masyarakat, mungkin terutama generasi muda untuk bisa berani menjadi kebanggan bangsa di situasi sekarang ini.

Thursday, 9 October 2014

Nyaman

Ada yang lebih penting dari sekedar kecantikan belaka. Hal tersebut adalah kenyamanan yang kau dapat dari seseorang.

Bisa jadi kau mengagumi menara Eiffel di Paris dengan terama sangat. Namun begitu bertatap muka dengannya, apalah artinya menginap di depannya terlalu lama. Kekaguman fisik dan material yang melekat itu lama-kelamaan akan menjadi pemandangan yang teramat biasa di matamu. Lama-lama kau pun kehilangan arti.

Oleh karenanya, seindah-indahnya suatu tempat, rumahmu yang hangat di kala kedinginan dan sejuk di kala kepanasan itulah yang akan kau rindukan, beserta orang-orang didalamnya yang harmonisasinya membuatmu bahagia. Lama-lama kau tambah memahami arti.

Hal ini juga berlaku untuk pasangan hidupmu, Teman. Sesekali lepaskanlah semua atribut fisik dan material yang ia miliki lalu habiskanlah waktu yang cukup panjang bersamanya. 

Jika dalam waktu yang cukup panjang itu timbul perasaan nyaman di dada dan benakmu, maka itu sudah lebih dari cukup, teman.