Sunday, 5 June 2016

Januari s.d Juni 2016

Okay, sebelum semakin lama gue tidak pernah menulis apa-apa di blog ini, gue putuskan untuk menulis apapun itu. Dan inilah update hidup gue dalam 6 bulan belakangan. Barusan gue harus menghitung jari sejak kapan gue berada di kota ini dan ternyata enam bulan! God, enam bulan ternyata gue sudah meninggalkan Jakarta.

Sejak akhir Desember, gue pindah ke Yogyakarta. Yap, pada akhirnya gue menuntaskan salah satu #lifegoal gue, yakni untuk kuliah di Universitas Gadjah Mada.

Untuk sedikit deskripsi bagi yang belum mengetahui, PPDS adalah singkatan dari Program Pendidikan Dokter Spesialis dimana pesertanya sering disebut sebagai residen. PPDS ini merupakan program yang harus dijalani seorang dokter umum untuk bisa menjadi spesialis.

Gue bisa katakan bahwa keseharian gue selama enam bulan kebelakang lumayan berat. Kalau kalian tidak percaya, coba kalian cari kenalan kalian mahasiswa PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis)/Residen Ilmu Kesehatan Anak semester satu. Entah dari universitas mana pun, saya rasa jawabannya serupa: lelah. Sudah bukan rahasia lagi bahwa menjadi residen anak itu lumayan berat, apalagi saat masih menjadi junior. Banyak beban tugas dan “tugas” yang harus dikerjakan. Silakan google mengenai tingkat stress PPDS Anak di Indonesia karena sudah ada penelitian sahih yang mendeskripsikan mengenai hal tersebut.

Inilah beberapa cuplikan singkat selama enam bulan belakangan babak baru dalam hidup gue.

Januari 

Januari adalah bulan pertama gue resmi menjadi PPDS Anak. Isinya adalah orientasi, baik orientasi resmi di tingkat universitas, rumah sakit, hingga di Departemen Ilmu Kesehatan Anak, atau orientasi tidak resmi oleh para senior. Selama orientasi, kami berkenalan dengan para residen dari bagian lain seperti bedah, penyakit dalam, kulit, THT-KL [:”)], hingga forensik. Kami juga berkenalan dengan senior-senior di PPDS Anak dan mendapat nasihat-nasihat sampai tugas-tugas yang nantinya harus kami lakukan. Kebanyakan mereka bilang bahwa tugasnya akan sangat berat, tetapi salah seorang senior bilang “Semuanya tak akan seberat itu”, dan tentu saja gue percaya senior ini demi kepositifan pola pikir gue.

Gue akhirnya bertemu dengan sepuluh orang lainnya yang lulus menjadi PPDS Anak. Mereka terkesan pandai-pandai! Saya sedikit ciut pada awalnya untuk mengobrol bersama mereka. Namun, ini kan sekolah, tempat dimana saya harusnya bisa bersama-sama tumbuh dengan mereka. Mereka adalah keluarga baru saya selama empat tahun kedepannya.

Februari

Menurut saya, yang paling melelahkan dari menjadi mahasiswa kedokteran adalah: Jaga Malam! Namun, lambat laun, hal itu datang juga. Di bulan Februari, saya telah resmi mengikuti jaga malam di RSUP Dr. Sardjito dan menjalani tugas-tugas non-resmi di PPDS. Tugasnya banyak banget dan lucu-lucu. Pasti orang awam tidak banyak menyangka bahwa PPDS seperti itu. Lain kali mungkin akan saya ceritakan.

Selama Februari, saat pagi hari kami mendapat kuliah pengantar dari seluruh subdivisi di Departemen Ilmu Kesehatan Anak UGM. Seperti biasa seperti kebanyakan manusia yang sedang menempuh pendidikan, saya merasa kecil sekali. Betapa banyak hal yang tidak saya tahu. Betapa banyak pelajaran yang belum saya baca. Betapa banyak pula penyakit-penyakit yang belum pernah saya dengar sebelumnya.

Benar juga apa yang sahabat saya, Bumi, pernah bilang bahwa bersekolah itu hanya membuat kita paham sebentar untuk kemudian sadar diri bahwa masih banyak yang tidak kita ketahui, lalu kita mencari tahu tentang ilmu yang lain lagi, untuk paham lagi bahwa ada pertanyaan selanjutnya yang masih harus kita cari tahu. Suatu proses yang tak ada hentinya.

Maret 

Akhirnya, pada bulan Maret, saya mulai memasuki stase pertama saya, yakni Bangsal VIP Anak. Stase saya disini tak melelahkan. Saya hanya menangani sembilan pasien di bangsal VIP ini. Penyakitnya beragam, mulai sekedar batuk pilek yang dirawat karena kekhawatiran orang tuanya, sampai gagal napas yang membuat anak tersebut harus kami rujuk ke unit rawat intensif.

April 

Selama bulan April, saya bertugas di RSUD Banyumas selama satu bulan penuh. Penuh dalam artian memang tak ada kata libur dalam satu bulan tersebut. Selama 15 hari pertama, saya bertanggung jawab menangani seluruh pasien anak yang ada di RSUD tersebut, baik pasien UGD ataupun bangsal. Selama 15 hari sisanya, saya menangani pasien bayi yang berada disana. Ibaratnya, saya adalah pintu awal untuk kemudian pasien tersebut saya laporkan kepada senior ataupun dokter anak yang bekerja disana.

Tidur tak pernah nyenyak disana karena dering telepon menanti berbunyi. Setiap beberapa jam akan ada panggilan. “Dok, ada pasien kejang di UGD” atau “Dok, ada bayi baru lahir tapi tak bernapas” dan panggilan-panggilan sejenisnya. Jujur saja, saya amat takut karena harus menjalankan resusitasi bayi baru lahir. Apa yang harus saya lakukan jika bayi yang baru keluar dari vagina seorang ibu tersebut tidak bernapas. Namun, inilah fase pendidikan yang harus dijalani. Lama-kelamaan setelah menangani puluhan bayi baru lahir, sedikit-sedikit saya tak gugup lagi bila harus menangani bayi baru lahir yang biru tak bernapas di depan saya. Ada perasaan lega yang menyirami saat melihat bayi yang demikian pada akhirnya menangis setelah kita tangani.

Banyumas melelahkan. Sebulan disana membuat saya turun lima kilogram. Namun, rasanya ada lima kilogram pengalaman pula yang masuk ke otak pikiran saya. Pengalaman penting yang berguna dalam perjalanan saya menjadi dokter anak. Saat pulang dari Banyumas, gue langsung mengganti nada dering telepon genggam yang selama sebulan menghantui itu. Dan senangnya bisa bertemu tempat tidur di kamar kost gue.

Mei 

Saat stase Banyumas akan berakhir, gue sesungguhnya antara lega tak lega karena jika diibaratkan sebuah peribahasa maka bunyinya akan keluar kandang harimau tetapi masuk kandang singa. Stase gue saat April adalah stase Perinatologi/Neonatologi atau yang berhubungan dengan bayi. Stase ini konon melelahkan tetapi ternyata menjadi stase paling menyenangkan untuk gue sejauh ini. Lelah iya tetapi orangnya penuh tawa!

Selama sebulan disini sesungguhnya gue hanya bertanggung jawab pada bayi-bayi dengan kondisi tak berat. Kebanyakan kerjaan gue disini hanya sebagai anak magang yang menyiapkan peralatan-peralatan pasien. Kita sendiri juga yang merakit ventilator dan menyiapkan baju-baju bayi. Sepele memang, tetapi untuk mempelajari yang rumit terlebih dahulu kita harus mempelajari hal yang teramat dasar, bukan? Contohnya seperti memakaikan popok. Di stase ini akhirnya gue bisa mengganti popok dengan elegan dan smooth lol.

Juni 

Dan inilah Juni. Saat ini gue sedang menjalani stase di bangsal infeksi anak. Ini stase terberat kata orang-orang. Kondisi berat pasien dan jumlah yang banyak katanya membawa stress tersendiri. Selama beberapa hari di bangsal ini gue sih mengakui bahwa memang butuh lebih banyak waktu dan usaha yang harus dikeluarkan selama belajar di bagian ini.

Setiap hari gue datang pukul empat pagi dan ternyata waktu tersebut pun masih gue rasa kurang. Satu pasien bisa menghabiskan banyak waktu karena programnya yang kompleks. Alhasil semakin hari gue selalu merasa hadir harus lebih pagi dan pulang lebih larut.

Sampai gue menulis ini, gue berada di hari kelima tetapi gue masih belum bisa beradaptasi dengan baik untuk mengadopsi gaya kerja di stase ini. Semoga adaptasi gue semakin cepat agar bisa semakin baik belajar dan bekerja di bagian ini. Sahabat gue, Bagaskara, menyemangati gue untuk tetap berjalan aja walaupun seberat apapun dan se-hectic¬ apapun keadaan. Lambat laun gue akan belajar sendiri dengan ritmenya. Ya, semoga aja demikian.

Maafkan jika gue mengeluh tetapi gue akui bahwa kelelahan menjadi tema sentral dalam kehidupan gue selama enam bulan belakangan ini. Waktu tidur gue yang tadinya amat teratur tentu hanya tinggal kenangan. Finansial pun terkadang dilandai kekeringan karena hanya mengandalkan beasiswa. Niat untuk menjalin kehidupan sosial baru dan mencoba-coba hal baru di Yogyakarta belum bisa terwujudkan. Menulis, melanjutkan belajar bahasa, dan membaca buku juga kalah dengan keinginan untuk sekedar beristirahat saat ada jam-jam kosong. Sebagai INFJ juga hati ini kadang merasa tertekan melihat absurditas beberapa oknum senior yang suka menekan walau senior skrg lebih banyak yang baik hati. Sesungguhnya, gue sedikit khawatir akan mengalami blok pikiran akan segala hal itu.

Namun, gue sudah memilih jalan ini. Jalan terbaik yang sudah tentu dipilihkan oleh Tuhan. Jika lelah dikaitkan dengan cita-cita bersekolah ini, dengan segera gue teringat akan hadits yang amat bagus. Hadits tersebut berbunyi:
Bila kamu tak tahan lelahnya belajar, bersiaplah menanggung perihnya kebodohan. 
Dan gue siap untuk melangkah lagi. Seberat apapun rasanya, bisa menolong anak-anak yang sakit dan mengamalkan ilmu yang dipelajari merupakan salah satu anugerah terbesar dalam hidup.

Tuesday, 15 December 2015

Kebahagiaan Dalam Ukuran Kilogram



KEBAHAGIAAN DALAM UKURAN KILOGRAM
Damar Prasetya Ajie Putra

Essay Sukses Terbesar Dalam Hidupku untuk Seleksi Beasiswa LPDP


Kesuksesan bukanlah semata-mata mengenai pencapaian pribadi kita. Kesuksesan sesungguhnya adalah saat kita dapat berguna bagi orang lain dan saat kita bahagia dan mampu membahagiakan orang lain.
Saya bertugas sebagai dokter yang menangani kesehatan dan gizi anak di salah satu Puskesmas di Jakarta. Sejak tahun 2013, saya juga telah menangani masalah gizi buruk yang terjadi pada anak-anak. Berbicara mengenai gizi buruk, pada tahun 2012, jumlah balita yang kekurangan gizi di Indonesia adalah sekitar 900 ribu jiwa atau 4,5% dari seluruh jumlah balita di Indonesia.
Pengalaman mengenai sukses terbesar dalam hidup saya bisa dijelaskan melalui pengalaman seputar anak dengan gizi buruk, yakni AN, RD, dan DF. Mereka bertiga adalah pasien-pasien dengan gizi buruk yang ditangani di Puskesmas tempat saya bekerja. Mereka bertiga datang semata-mata untuk berobat seperti biasa. Gizi buruk yang dialami oleh anak tersebut baru diketahui oleh orang tuanya setelah penilaian gizi yang rutin dilakukan. Kebanyakan dari orang tua tersebut malah tidak mengetahui bahwa anak mereka mengalami gizi buruk.
Penanganan gizi buruk merupakan suatu hal kompleks yang membutuhkan kesabaran karena waktu terapi yang lama dan membutuhkan kerja sama dari banyak pihak. Ketiga pasien tersebut dirawat di Puskesmas kami dengan saya sebagai dokter penanggung jawab TFC atau Therapeutic Feeding Center. Setiap hari kami melakukan penanganan dan pemeriksaan gizi pada mereka hingga akhirnya mereka diperbolehkan pulang setelah berat badan mereka tidak lagi berada di bawah batas gizi buruk. Setelah pulang mereka masih diwajibkan untuk kontrol kembali untuk memeriksakan ulang status gizinya.
Status gizi berpengaruh erat terhadap pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Anak dengan gizi buruk biasanya berperingai rewel dan mudah menangis, seperti yang didapatkan pada ketiga anak tersebut pada awalnya. Selain itu, perkembangan mereka pun terhambat, seperti anak AN yang pada usianya yang dua tahun keatas masih belum dapat juga berjalan, yang dikira oleh orang tuanya hanya sebatas terlambat yang tidak perlu dirisaukan. Tentu selain perkembangan motoriknya tadi, status gizi anak juga ikut memperngaruhi kecerdasan anak nantinya.
Kesuksesan adalah saat dimana saya dapat menjadi manusia yang berguna bagi orang lain seperti saat mereka selesai menjalani perawatan gizi buruk tersebut. Selain melihat perbaikan dalam tampakan fisik mereka, saya pun merasa bahagia melihat raut wajah mereka yang tadinya rewel, kini telah berubah menjadi lebih ceria. Anak tersebut dapat diajak bercanda bahkan mau digendong tanpa takut dan menangis. Selain hal tersebut, satu hal yang paling membuat saya bahagia adalah saat beberapa bulan setelah perawatan, anak AN datang kembali ke Puskesmas kami. Ibu dari anak tersebut mencari saya sambil menggandeng anak tersebut dan berkata bahwa anaknya telah mulai dapat berjalan walau masih butuh bantuan dari ibunya. Pada saat itulah, pikiran saya kembali ke bulan-bulan sebelumnya dimana anak, yang tadinya rewel dengan iga menonjol dan tulang kaki yang kurus itu, kini dapat berjalan tertatih-tatih sambil tertawa kegelian dibercandakan oleh orang sekitarnya.
Selain merasa senang melihat perubahan yang terjadi pada mereka, saya pun turut merasa senang karena ilmu yang saya pelajari selama ini dapat secara langsung saya terapkan kepada orang lain, sebab memang begitulah tujuan utama pendidikan, yakni untuk memanfaatkannya demi kebaikan orang lain. Pencapaian saya yang satu ini melebihi hadiah piagam, trofi, ataupun uang tunai sekalipun. Hal ini merupakan suatu perasaan yang tak bisa dinilai dengan materi. Selain merasa puas secara duniawi, tentu hal ini juga merupakan pundi-pundi pahala yang dapat saya kumpulkan satu per satu di dunia ini. Perawatan dan kesabaran kami dalam menangani anak-anak bergizi buruk yang kami temukan tidak menambah pendapatan materi kami, tetapi sungguh dibalik itu, tentu ada berkah yang nilainya lebih dari sekedar materi semata.
Pada akhirnya, memang penting bagi manusia untuk memiliki cita-cita. Tidaklah salah untuk bercita-cita membahagiakan diri sendiri seperti bercita-cita pergi ke Paris, memiliki mobil mewah, memiliki rumah besar, ataupun semacamnya. Namun, jangan lupa untuk memiliki cita-cita untuk membahagiakan orang lain sekecil apapun bentuknya karena kesuksesan yang kita lakukan untuk diri kita sendiri akan habis untuk kita sendiri, tetapi kesuksesan yang kita lakukan demi kebahagiaan orang lain akan terpatri selamanya dan menjadi sukses terbesar dalam hidup kita. Contohnya untuk saya, kesuksesan terbesar saya justru didapat dari sekedar poin-poin kilogram yang bertambah pada anak-anak dengan gizi buruk.

Saturday, 28 November 2015

Equilibirum Membaca dan Menulis

"Hati-hati bila terlalu keasyikan membaca lalu jadi tidak produktif menulis". Suatu hari pesan dari Bagas tersebut datang ke grup whatsapp kami bertiga (saya, Bumi, dan Bagas) pada pukul 02.00 WIB. Saya mengecek aplikasi world clock untuk mengetahui ternyata masih pukul enam sore di London sana. Itu kalimat dari dosennya tadi sore, katanya. 

Layaknya otak manusia yang memang berbentuk seperti sponge, benda keramat itu menyerap hal-hal (pengalaman, emosi, atau dalam kasus ini: bacaan) untuk bertahan hidup. Namun, tidak hanya itu, ia juga perlu mengeluarkan sesuatu (dalam kasus ini: tulisan) agar terciptalah kondisi ekuilibrium. 

Memang saya dan teman-teman saya tadi bukanlah penulis populer nan tersohor dengan karya-karya kualitas tinggi, walau Bagas pernah menulis untuk koran nasional. Yang saya tulis hanyalah catatan harian (yang kebanyakan untuk saya sendiri), tulisan di blog, makalah kedokteran, atau surat untuk orang lain. Namun, saya merasa dengan menulis itulah pikiran saya menjadi lebih sehat. 


Dan selain itu, kita tak akan pernah menyangka seberapa jauh tulisan kita bisa masuk ke pikiran orang lain dan mungkin mengubahnya. Jangan pernah menyepelekan kekuatan tulisan, bahkan dalam kadar tulisan yang sepintas kita rasa tidak punya arti apa-apa. Saya yang sekarang lumayan berbeda dari saya yang dulu pun ternyata berkat tulisan-tulisan orang. Tulisan-tulisan tersebut membentuk pikiran saya, lalu membentuk tindakan, dan pada akhirnya mampu mempengaruhi jalan hidup saya. 

Saya ingat betapa terkucilnya saya. Tak punya rasa percaya diri dan ketakutan setengah mati bila guru memandang diri saya. Tidak pernah terlintas untuk mencoba ini itu karena saya yakin saya tidak mampu. 

Buku pertama yang begitu signifikan mengubah saya adalah 'Being Happy' oleh Andrew Mathews. Sebuah buku self motivation penuh gambar yang mungkin picisan, tapi begitu memukau untuk saya yang baru lulus SMA itu. Melalui buku itu, pola pikir saya berubah drastis. Saya pun sedikit-sedikit keluar dari zona aman nyaman saya yang tidak membawa saya kemana-mana. 

Namun, ternyata kekuatan tulisan tidak hanya dimiliki oleh buku-buku tenar atau sastra tersohor saja. Bahkan, dari pengalaman saya, tulisan-tulisan di blog pribadi orang lain juga membentuk hidup saya. Betapa kagetnya orang tua dan teman-teman saya saay mengetahui saya mengikuti kompetisi Bujang Gadis Kampus (atau Kompetisi Mahasiswa Berprestasi Sumatera Selatan) dan menjadi Abang Jakarta Barat di kompetisi Abang None Jakarta yang disiarkan di televisi. "Kok bisa saya yang pemalu jadi pemau?", kata mereka. 

Jawaban sesungguhnya adalah karena tulisan Deasy Benita Priadi dan M Cipta Suhada. Telah lama sekali saya mengikuti kehidupan mereka dari apa yang mereka ceritakan disana. Saat mereka satu per satu menjadi bagian dari kompetisi tersebut, saya seolah diberanikan oleh tulisan mereka untuk mencobanya. 

Perihal beasiswa pun demikian. Tulisan dari Rifki Akbari-lah yang membuat saya ikut mati-matian mencoba jalan meraih beasiswa seperti dirinya. Dan, tidak hanya melulu soal pencapaian semacam itu, tulisan mengenai keseharian pun ternyata mampu membuat saya memaknai usaha untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Tulisan yang dimaksud adalah tulisan Krisnaresa Aditya yang banyak menulis hal sehari-hari dari sudut pandang berbeda yang suka membuat saya berpikir berhari-hari tentang apa yang ia kemukakan. 

Mungkin hingga saat ini, orang-orang tadi tidak mengetahui betapa tulisan mereka memperbaiki saya. Saya dan Cipta Suhada sudah ada di satu lingkup komunitas sekarang, tetapi demi menjaga timbulnya ke-awkward-an, saya sembunyikan bahwa saya telah kenal kehidupannya yang ia tulis di blognya. 

Pepatah mengatakan, harimau mati meninggalkan belang, pun gajah dengan gadingnya. Manusia mati meninggalkan tak hanya nama, tapi juga tulisan. Jane Austen seolah masih hidup karena Pride and Prejudice masih diterjemahkan ulang hingga kini. Entah sampai berapa abad lagi pula nama Pramoedya Toer masih terus dibahas karena bukunya yang dicetak ulang melulu. 

Jadi, membacalah yang banyak. 
Namun. jangan lupa untuk menulis, sesederhana apapun itu. Karena hal kecil yang kau ceritakan lewat tulisanmu bisa jadi mengubah hidup orang asing yang kebetulan membacanya. 

Monday, 16 November 2015

Cinta (tak) Harus Memiliki?

Ungkapan bahwa ‘Cinta tak harus memiliki’ mungkin ditanggapi berbeda oleh banyak orang. Ada yang setuju, ada pula yang menyanggahnya. Dan, seperti pada kebanyakan hal di dunia ini, tidak ada salah atau benar dari pernyataan tersebut. Orang yang setuju dengan pernyataan tersebut pasti punya penjelasannya sendiri, begitu pula sebaliknya. Semuanya kembali kepada pribadi masing-masing karena memang manusia punya pemikirannya masing-masing. 

Beberapa kali saya pernah mendengar beberapa orang berbicara tentang hal ini. Rata-rata kenalan saya yang setuju dengan hal ini biasanya adalah orang yang baik nan lembut sekali tetapi pasif serta cenderung pendiam. Sedangkan rata-rata kenalan saya yang menyangahnya atau punya prinsip bahwa cinta harus memiliki, biasanya adalah orang berpendirian teguh, pekerja keras tetapi juga keras kepala serta cenderung talkative. Tentu saja itu hanya menurut rata-rata saya, tanpa ada validitas dari kebenarannya. 

Di bagian mana saya berpihak? 

Saya berpendapat serupa dengan kelompok yang pertama, yakni cinta tak harus memiliki. Penjelasan singkat saya adalah dalam mencintai seseorang, mengetahui orang tersebut berbahagia adalah bentuk cinta yang tertinggi. Melebihi dari kadar ingin memiliki atau keinginan untuk terus bersamanya. Untuk apa mempertahankan sesuatu bila ternyata orang tersebut tidak bahagia bersama kita, atau yakin bahwa kebahagiaan terbesarnya ada pada sesuatu yang bukan pada kita. 

Kemarin sore, saya teringat dengan cerita zaman nabi terdahulu yang membuat saya semakin yakin bahwa cinta tak harus memiliki. Kisah ini adalah kisah kasih sayang antara orang tua dan anaknya, yang jelas melebihi dari cinta sepasang manusia picisan. Cerita tersebut adalah cerita mengenai seorang bayi yang diperebutkan oleh dua orang wanita yang mengakui bahwa bayi tersebut adalah miliknya. Singkat cerita, pada akhirnya sang raja memberi solusi bahwa ia akan memotong saja bayi itu menjadi dua agar keduanya adil mendapatkannya. Salah seorang ibu tersebut setuju dengan ide tersebut dan satunya lagi begitu takutnya sehingga ia merelakan saja bayi tersebut diberikan kepada wanita tadi. Pada akhirnya, raja pun paham bahwa wanita yang lebih rela melepaskan anaknya untuk orang lain daripada melihat anaknya terbelah itulah yang merupakan ibu kandung sesungguhnya. 

Jadi, bisa dilihat bahwa dalam kadar cinta yang lebih besar, seseorang dapat lebih memilih untuk melepaskan ego untuk memiliki demi kebaikan atau kebahagiaan orang yang disayangnya. Justru dalam kadar cinta yang lebih besar itulah, ego dapat diredam. Memang menyakitkan untuk melihat orang yang kita sayangi pergi dari pelukan kita. Berat dan sesak pula rasanya dada kita saat melihat ia bisa tersenyum bahagia saat ia menggandeng mesra orang lain. Namun, di dalam nyeri yang teramat itu, ada sedikit keikhlasan sebagai tanda cinta kita padanya. 

Ada banyak cara dalam mencintai. Bisa jadi yang kamu utarakan itu benar adanya. Namun, jangan lupa bahwa cara orang lain yang berbeda darimu belum tentu pula salah. Dari sekian banyak cara mencinta itu, merelakan adalah salah satunya.

Monday, 20 July 2015

03:00 AM

Saat ini pukul tiga dini hari. Dimensi dimana bahkan waktu pun bimbang untuk berpihak kepada siapa. Kepada beragam mimpi-mimpi tentang masa depan atau kepada jutaan memori-memori masa lalu yang kadang hadir mesra menghantui.

Ada apa dengan esok? Akankah semua-semua yang kita usahakan pada hari ini akan menjadi nyata pada esok hari? Agar pada lusa harinya kita bisa dengan tersenyum menepuk bangga pada diri sendiri. Atau justru yang kita usahakan harus berhenti karena ternyata harapan tak sesuai dengan kenyataan. Sehingga mau tak mau kita harus menerima sambil menghibur diri sendiri karena kita adalah pelipur lara utama diri kita sendiri.

Berandai-andai tentang ini dan itu hingga dingin terasa lebih menyusup dari luar sana. Sesekali dari jendela kaca di samping kanan tubuh ini, bulan tampak tertutupi oleh awan dengan dasar kanvas berupa langit tanpa bintang. Ada apa dengan masa kini? Apakah bulan telah menjadi seorang pengantuk sehingga enggan bersinar pada dini hari? Apakah bintang telah menjadi sebegitu pemalu hingga tak tampak lagi di kota ini?

Selimut boleh jadi direkatkan lebih erat ke tubuh ini. Namun, dingin yang terasa masih ada menyelimuti.  Bagaimana tentang masa lalu? Apakah dengan memikirkannya diri ini menjadi lebih hangat atau justru dingin makin menjadi?

Apa kabar kalian: orang-orang di masa laluku? Mengapa waktu membuat kita menjadi orang biasa yang penuh kebasa-basian? Mungkinkah waktu adalah seorang pembunuh? Yang perlahan-lahan, tanpa kita sadari, membunuh segala rasa dan ikatan tentang kita. Teman-teman yang saat ini hanya berbicara sebatas apa kabar dan sedang apa, untuk kemudian larut lagi dalam kesembunyian penuh canggung.

Apakah waktu yang membuat kita lupa, bahwa dahulu kala kita pernah saling menjaga. Bahwa kamu adalah saudaraku, dan aku pun saudaramu. Bahwa dulu kita pernah tertawa besar-besar bersama dan menangis diam-diam bersama. Menjalani hari-hari penuh ingin dan mimpi ditemani lelucon-lelucon internal yang tak orang lain pahami. Bahwa suatu saat kita akan terus seperti ini sambil mengejar mimpi kita masing-masing, hingga lupa bahwa suatu hari itu adalah hari ini, dan hari ini tidak seperti rencana kita dulu.

Mungkin sesungguhnya kita hanya sama-sama mengisi suatu fase hidup kita masing-masing. Seperti jejak-jejak sejarah suatu negara yang menjadikannya ada. Yang hadir bukan untuk diulang, tapi untuk sesekali ditengok kebelakang untuk memastikan bahwa memori itu masih ada disana. Karena tanpa masa lalu, tidak akan ada kita yang sekarang. Seperti sejarah pula, suatu hari aku akan mengingatmu, entah sebagai momentum pembelajaran, momentum kesenangan, atau malah momentum sedih penuh luka yang buru-buru dialihpikirkan. 

Mungkin waktu adalah benar seorang pembunuh. Pembunuh yang harus melaksanakan tugasnya agar roda kehidupan bisa terus berputar. Dari tadi dibicarakan, waktu terasa terusik. Ia hadir meninabobokan bulan dan bintang lalu pergi membangunkan surya untuk mengganti. Semburat fajar berwarna oranye sedikit-sedikit mulai memasuki jendela.

Gara-gara waktu, saat ini sudah bukan pukul tiga dini hari lagi.

Wednesday, 3 June 2015

Charlie's Last Letter


The Perks of Being A Wallflower is one of my all-time favorite books. It's about a diary of a teenage named Charlie who, after being rejected, invisible and having no mates, finally found people whom he can call best friends. The book is so honest that it tells me what teenage feels like, both of good and bad things. It is so pure that I can feel his every word and feelings it contained. The book tells me about young love, friendship, participate, and to embrace every single second that currently happening to me. I also love the idea that Charlie loves literature and writing journal as much as I do. Well maybe, one of the reason why I fall for this book so much is because, at some point, I was Charlie. 

On the end of its book and movie, it has a very good letters that famously known as "Charlie's Last Letter"
 I don't know if I will have the time to write anymore letters
Because I might be too busy trying to participate.
So if this does end up being the last letter,
I just want you to know that I was in a bad place before I started high school
And you helped me.

Even if you didn't know what I was talking about
Or know someone who's gone through it.
You made me not feel alone.

Because I know there are people who say all these things don't happen.
And there are people who forget what it's like to be sixteen when they turn seventeen.
And know these will all be stories someday
And our pictures will become old photographs
And we'll all become somebody's mom or dad.
But right now these moments are not stories.

This is happening.
I am here and I am looking at her
And she is so beautiful.
I can see it.
This one moment when you know you're not a sad story,
You are alive.
And you stand up and see the lights on buildings
And everything that makes you wonder,
When you were listening to that song
On that drive with the people you love most in this world.

And in this moment, I swear, we are infinite.
 

Thursday, 28 May 2015

Drowning

Immense darkness

So it's about a man. A man whom other people won't consider lonely since he seems like having so many photograph smiling with many peers on his account. But sometimes we just cannot judge people just by looking at it.

It still about a man. A man who being attacked by lonesome feeling on his way back to home on the train. He is surrounded by so many people, strangers exactly. Strangers that chatting all along and some who still looking at their cellphone all the time. 

And it is still about a man. A man who sometimes afraid of declare and convince that he has already found a new best friend, a mate. A fear that he feels because he is afraid that life will take it again like some of his previous one. Like one best friend on his junior high that got to leave for another city, like one on his senior high that his mother prohibited because she was afraid that his son was going to be a bad boy although he was still be such a kind and obedient one, or like one on his college that just simply gone away because his friend was just too busy with his love life, or else and else. 

He is aware that he has a loving parents and a loving girlfriend, but sometimes it is much more beyond that.  He was raised an only child and broken, and friends were used to be their brothers and sisters. He was such an awkward human being with intense introversion that not every single one could open up to him and vice versa. Sometimes when he was losing a friend not because of his own fault, he was thinking maybe it's God's way although he is still wondering why. 

He is still afraid of losing. He is still wondering Why God about this and that. On his dark bedroom with a ray of city's night building out there, he is lying on his bed and thinking. Time by time, his immense loneliness take over his whole feeling. He tries to warm up his body by blanket, but the cold still covers him.

Finally, it is still about a man. A man who is drowning. And he is drowning and drowning and drowning on his own ocean of loneliness. And he does not know anything about smoke, beers, drugs, or clubs. And so he is trying to sleep. Because it is his only place where he could stay.