Jadi, salah satu hal yang patut saya contoh dari Ayah saya adalah beliau selalu mendengarkan orang, yang sedang berbicara, dengan seksama. Hal itu terutama berlaku saat ia sedang mendengarkan ceramah salat Jumat. Entah bagaimana caranya, diantara kami-kami yang justru lebih muda, ia malah duduk diam tenang dan mendengarkan isi ceramah yang sedang dibicarakan.
Sungguh saya ingin mencontoh kebaikan yang dilakukan oleh Ayah saya itu. Nah, beberapa kali, biar tidak lupa, saya mencatat di telepon genggam apa yang sedang dibicarakan saat salat Jumat. Petikan ini merupakan salah satu rangkuman salat Jumat yang saya hadiri beberapa waktu lalu di Gandaria City. Judulnya adalah nasihat untuk hidup berbahagia.
Nasihat Pertama
Selalu bertaqwa. Taqwa yang dimaksud adalah menghindari hal-hal yang dapat mendatangkan sanksi Allah SWT dan mematuhi perintahnya. Taqwa adalah kunci utama untuk mendapatkan kemuliaan dunia dan akhirat. Kita juga harus bertaqwa baik saat tersembunyi maupun terang-terangan.
Di dalam surat An-Nisa dianjurkan untuk bertaqwa supaya manusia mendapatkan kebaikan, keselamatan, dan kebahagiaan. Taqwa juga merupakan dasar dari diterimanya amal oleh Allah SWT.
Nasihat Kedua
Setiap
pekerjaan kita pasti memiliki rinciannya masing-masing. Kerjakanlah apa
yang menjadi tugas atau peranmu.Terdapat pula empat hal yang bisa
membuat kita bahagia tanpa perlu harta berlimpah, yakni menjaga amanah
dalam pekerjaan, jujur dalam bicara, berakhlak mulia, dan membebaskan
diri dari keserakahan.
Nasihat Ketiga
Seringkali kita begitu malasnya sehingga banyak meminta bantuan pada bawahan, orang tua, dan lain-lain. Nasihat ketiga ini adalah jika kamu mampu, maka janganlah kamu meminta bantuan pada orang lain, walau hanya sekedar mengambilkan tongkat.
Hal ini dilakukan dalam rangka mensyukuri kesehatan dan kesempurnaan fisik sebagai rahmat Allah SWT. Sehari-hari, kita juga telah memakan beragam makanan untuk mendapatkan energi, nah, manfaatkanlah energi itu untuk bekerja.
Nasihat Keempat
Apabila kalian melakukan kesalahan,
segeralah ikuti dengan perbuatan baik. Jangan sampai kesalahan yang
dilakukan terus menerus pada akhirnya akan menjadi karakter pribadi.
Hanyutkanlah kesalahan dengan perbuatan baik, sehingga keburukan akan hanyut dalam kebaikan yang berlimpah.
Umur
kita juga tidak akan cukup untuk melakukan semua jenis kebaikan. Oleh
karenanya, lakukanlah kebaikan setiap saat ada kesempatan.
Sekian!
No comments:
Post a Comment